f KREMOV PICTURES - Komunitas Film Banten dan Rumah Produksi

Minggu, 02 Desember 2018

Satu Layar, Seribu Warga Nonton Tirtayasa

SERANG - Antusias warga Serang Utara (Tirtayasa, Kasemen, Pontang, Ciruas dan sekitarnya) berduyun-duyun untuk nonton film Tirtayasa - The Sultan of Banten pada Sabtu malam (01/12/2018) di Halaman Situs Pahlawan Tirtayasa. Film Produksi Kremov Pictures ini sebelumnya juga di putar di berbagai kampus seperti UIN Banten pada (21/11/2018) antusias penonton film sangat tinggi selain mereka ingin mengetahui sejarah Sultan Ageng Tirtayasa, warga hadir ingin menyaksikan film produksi Kremov lainnya seperti Mengejar Medali, Perempuan Lesung hingga film komedi, Belalang Cupu-cupu. Kremov Pictures menjadi komunitas film produktif yang tidak hanya memproduksi film, namun juga rutin mengadakan event pemutaran film hingga apresiasi film berbentuk Festival Film Banten. Kremov Pictures yang kini tengah menyelesaikan produksi terbaru "Kill me by your hands" dan juga sedang mempersiapkan program kerja tahun 2019.(red)

Berikut Video Event LAYAR TANCAP TIRTAYASA - 01 Desember 2018


Jumat, 09 November 2018

Kill Me By Your Hands, Produksi Terbaru

CILEGON, biem.co — Kremov Pictures mulai memproduksi film terbarunya berjudul “Kill Me by Your Hands”. Film yang diangkat dari cerita pendek karya Ikbal Fadilah ini ditujukan untuk festival film di Italia dan beberapa negara Eropa lainnya.

Mengisahkan tentang persahabatan Adim dan Vio yang terjebak dalam situasi yang tidak seharusnya, kehadiran Lira membuat konflik di antara kedua sahabat tersebut. Film ini mengangkat tentang hal yang cukup tabu di Indonesia dan berbicara tentang gender serta penyimpangan seksual.

“Sebetulnya ide cerita ini muncul dari seringnya saya melihat fenomena sekitar yang tanpa kita sadari hal tabu itu ada di sekitar kita. Seringkali kita menyaksikan kisah cinta yang dramatis antara laki-laki dan perempuan yang kemudian memberikan saya inspirasi dengan memutarbalikkan cerita tersebut,” ungkap Ikbal, penulis cerita pendek yang sekaligus menjadi Director of Photography dalam produksi film ini.

Ikbal menambahkan, bahwa dirinya ingin berkarya seluas-luasnya dan sebebas bebasnya. Kremov pun menjawab mimpinya untuk mewujudkan film serius dari cerpen yang ia buat.


Darwin Mahesa, CEO Kremov Pictures, yang juga menjadi Produser serta penulis skenario filmnya, menuturkan bahwa pihaknya siap dengan segala konsekuensi untuk membuat film yang kemungkinan bisa menjadi perbincangan banyak orang.

“Kami memiliki visi dan tujuan yang jelas untuk memproduksi film Kill Me by Your Hands, salah satunya akan kami terbangkan ke festival internasional, dan tidak dikonsumsi untuk publik, karena kita tahu Indonesia apalagi Banten belum siap dengan film seperti ini. Namun, kita perlu memahami bahwa film merupakan karya seni dengan beragam gagasan, sama dengan karya seni lainnya bisa terinspirasi dari kejadian-kejadian disekitar kita, apapun itu, tidak melulu hal-hal baik, tapi dari sudut pandang lain yang jarang kita tahu, itu yang akan kami angkat. Terlebih cerita di film ini tentang sesuatu yang sedang marak dibicarakan, dan sebagai film maker, kami akan membicarakannya lewat film,” jelas Darwin.

Film ini disutradarai oleh Cepy Hermawan, Cepy mengatakan cerita dari film ini cukup menarik lantaran isu tentang gender dan penyimpangan seksual sedang hangat dibicarakan di Indonesia.

“Di film ini kita tidak akan mengatakan siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi kita akan mengatakan tentang pilihan yang paling terbaik. Faktanya perilaku seperti itu ada di lingkungan kita. Pemahaman-pemahaman tentang hal tersebut harus kita miliki agar kita bisa mengetahui setiap gejala yang terjadi di sekitar kita, sehingga kita bisa melakukan tindakan preventif,” ucapnya.


Cepy menambahkan, bahwa film seperti ini sangat jarang dibuat dan ia pun merasa tertantang untuk memproduksinya, terlebih Kremov berancang-ancang mendistribusikannya dalam festival Internasional.

“Film ini kita targetkan minimal masuk nominasi di berbagai festival film, dan tentunya sangat berharap bisa mendapatkan penghargaan,” tandasnya.

Dikatakan Darwin, bahwa syuting film ini diagendakan setiap akhir pekan di bulan Oktober hingga November 2018. Adapun proses post production akan dilakukan pada Desember, sehingga Januari 2019, film sudah bisa didistribusikan ke festival.

“Walau film ini hanya ditujukan untuk kalangan terbatas, publik tetap dapat melihat proses kreatif pembuatan filmnya dan juga trailer di berbagai media sosial,” ujar Darwin.

Selain film ini, lanjut Darwin, Kremov juga sedang mempersiapkan produksi film untuk 2019, dengan kembali ke jalur khas Kremov yang akan mengangkat tema Inspirasi, Pendidikan, Budaya, dan Pariwisata.

“Tahun depan, Kami ingin membuat film yang bisa membakar semangat anak muda untuk bermimpi setinggi-tingginya,” pungkasnya. (red)
Editor : Happy Hawra






Minggu, 22 Juli 2018

Film Terbaik Festival Film Banten 2018

KOTA CILEGON, biem.co — Setelah melakukan proses penjaringan dari berbagai tahap, Kremov Pictures akhirnya mengumumkan para pemenang Festival Film Banten 2018.

Lewat 122 film pendek yang masuk dari berbagai provinsi di Indonesia, hanya dipilih sembilan film saja yang selanjutnya dinilai oleh para dewan juri hingga menghasilkan pemenang dari masing-masing kategori.

Penilaian ini dilakukan dengan sistem terbuka, di mana sembilan film nominasi tersebut ditayangkan lalu dinilai oleh tiga dewan juri yang terdiri dari Irvan HQ (CEO biem.co), Dirmawan Hatta (Penulis, Sutradara, dan Produser film nasional), serta Woro Anggraeni (Pegiat film pendek di Banten) saat acara Screening, Sabtu (21/07) siang. Usai penjurian, dewan juri pun telah memiliki daftar pemenang dari tiap kategori yang kemudian diumumkan saat Awarding Night FFB 2018 di Hotel The Royale Krakatau, Cilegon, Sabtu (21/07) malamnya. Berdasarkan keputusan tersebut, berikut daftar pemenang Festival Film Banten 2018:

Kategori Pelajar: Liontin (Tangerang, Banten);
Kategori Mahasiswa: Jalan Pintas (Bangka Belitung);
Kategori Umum: Mengejar Koin (Banda Aceh).

Menurut Irvan HQ, yang menjadi pertimbangan ketiga film tersebut terpilih sebagai pemenang di ajang FFB ini lantaran memiliki ide cerita yang otentik dan orisinal.

“Film Jalan Pintas, idenya orisinal banget. Sebetulnya banyak dialami oleh kita-kita juga, baik itu dalam hal yang real atau dalam hal filosofinya. Kemudian tanpa banyak kata-kata, dia punya banyak gesture yang bisa menjelaskan kelucuan-kelucuan itu. Twist-nya dapet banget lah,” ungkapnya.

Dikatakan Irvan, hal ini juga berlaku bagi film Mengejar Koin. Film tersebut memiliki nilai kebangsaan yang menjadi menarik karena dibuat di perbatasan Banda Aceh dan Malaysia. “Itu adalah kondisi nyata yang mewakili bangsa kita saat ini,” imbuhnya.

Jika untuk film Liontin, Irvan mengakui bahwa teknologi yang digunakan oleh para kreatornya sudah cukup canggih sehingga editing filmnya pun menjadi bagus. “Liontin bisa memanfaatkan ruang-ruang kecil yang harusnya membosankan, malah menjadi menarik,” ujarnya.

Namun, ia berharap para pemainnya bisa mengeksekusi lebih dalam lagi dari segi aktingnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Woro Anggraeni kepada biem.co. Semua film yang masuk ke dalam nominasi dinilai bagus oleh Woro. Namun menurutnya, ketiga pemenang ini memiliki ide cerita yang lebih unggul.

“Seperti kategori pelajar (red: film Liontin), mereka punya penguasaan teknis yang sudah bagus. Terus ceritanya juga bagus. Kalau untuk yang Jalan Pintas, kebetulan itu kan memang ceritanya simple tapi realitas dan tidak dibuat-buat, natural sekali. Itu good pointlah. Yang ketiga, Mengejar Koin. Di situ ada sisi nasionalismenya, dan kebetulan juga itu di daerah pinggiran yang biasanya fenomena-fenomena seperti itu memang ada,” tutur pegiat film pendek di Banten tersebut.

Sementara itu, menurut Dirmawan Hatta, ketiga pemenang memiliki satu kesamaan yang tidak dimiliki film-film lainnya. “Idenya itu solid, perwujudannya juga pas. Artinya, mungkin dia sederhana, tapi dia tau apa maunya gitu. Tau apa maunya itu menurutku berharga di diri seorang kreator,” pungkasnya, saat ditemui biem.co usai acara.
Selamat untuk ketiga pemenang. (HH)

Sumber: BIEM.CO
















Geliat sineas muda dalam perfilman semakin berkembang. Di perfilman lokal sendiri, sudah banyak komunitas-komunitas film di berbagai daerah, termasuk Banten, yang memproduksi film-film pendek. Melihat hal tersebut, Kremov Pictures bersama Pusat Pengembangan Perfilman menggelar Festival Film Banten (FFB) 2018 sebagai bentuk apresiasi para sineas film pendek.

Tak hanya untuk sineas film di Banten, FFB yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2017 ini juga ditujukan untuk sineas dari seluruh penjuru wilayah.

“Kita pengen agar seluruh sineas film pendek yang ada di Indonesia ini ikut terlibat. Memang sangat banyak sekali peserta-peserta dari Provinsi Banten sendiri. Cuma kami menilai secara objektif bukan hanya dari Banten, tapi juga rata dari seluruh Indonesia,” kata Darwin Mahesa, CEO Kremov Pictures sekaligus Director FFB 2018 kepada biem.co.

Acara ini pun sukses digelar di Convention Hall, Hotel The Royale Krakatau, Cilegon, Sabtu (21/07), yang dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Banten, para sineas, undangan, dan sejumlah masyarakat umum.

Pada penyelenggaraan FFB 2018, pihaknya mengusung dua acara terpisah, yakni Screening di siang hari, yang mana merupakan penjurian terbuka nominasi FFB 2018. Dan juga Awarding Night di malam harinya, yang menjadi puncak acara.

“Mudah-mudahan tahun berikutnya banyak sekali potensi-potensi anak muda Banten yang membuat film pendek yang dapat diikutsertakan dalam Festival Film Banten 2019,” harap Darwin.

Di samping itu, Dirmawan Hatta, salah satu yang didaulat menjadi juri FFB 2018, melihat bahwa gelaran festival seperti ini bisa memberikan kepercayaan diri bagi para pembuat film lokal.

“Kalo dari sisi regulasi, gimana caranya biar kemudian ini jadi bagian dari industri nasional. Ada ruang putar yang lebih banyak,” ungkapnya, saat ditemui biem.co usai penjurian FFB 2018.

Namun, menurut Penulis Skenario film Bulan di Atas Kuburan tersebut, festival semacam ini hanya menjadi salah satu cara untuk menguji kemampuan. Ia berharap agar para sineas yang turut serta namun tak berhasil masuk ke festival bisa terus membuat karya sebanyak-banyaknya.

Senada dengan itu, Woro Anggraeni yang merupakan pegiat film pendek di Banten mengaku senang bsia mendapat kepercayaan menjadi juri di ajang ini. “Pesertanya punya film yang bagus-bagus. Semoga ini menjadi motivasi untuk anak Banten sendiri untuk kemudian berkembang ke nasional,” ujarnya. (HH)

Sumber: BIEM.CO













































 
Product by Kremov Pictures | Disbudpar Provinsi Banten - Visit Banten 2015 | Jawaranya Film Banten!