f Maret 2015 ~ KREMOV PICTURES - Komunitas Film Banten dan Rumah Produksi

Selasa, 31 Maret 2015

Malam Puncak Hari Film Nasional, Kremov Hadir di Istana Negara

Malam Puncak Hari Film Nasional, Kremov Hadir Nonton Bareng Bersama Pekerja Film dan Presiden.
JAAKRTA - Presiden Jokowi mengapresiasi industri perfilman Indonesia dengan menggelar peringatan hari film nasional di Istana Negara Jakarta, bersama sejumlah menteri kabinet kerja dan artis-artis papan atas beserta perwakilan komunitas film Indonesia, Jokowi nonton bareng sebuah film karya anak bangsa yang berjudul "Cahaya Dari Timur"
Kremov Pictures merupakan komunitas yang mewakili Banten, Darwin Mahesa selaku film director dan Nando Sumarna selaku penata artistik dalam film "Jawara Kidul" produksi Kremov antusias mengikuti seluruh rangkaian acara besar tersebut. Selain Kremov terlihat hadir komunitas dari lampung dan daerah lainnya.
Berkesempatan diskusi dengan para aktor ternama dan pekerja film merupakan hal yang penting untuk komunitas, apalagi Menteri Anis Baswedan mengapresiasi hadirnya komunitas film yang ada di Indonesia, Jokowi mengatakan pemerintah akan mendukung penuh untuk perkembangan film Indonesia.
"Usai acara disertai nonton film selama hampir 6 jam bersama Presiden, kami kembali ke lobi istana untuk bersiap pulang membawa sesuatu untuk Banten, yakni Semangat, Inspirasi dan Motivasi dalam mengembangkan film lokal di Banten" (red/kemendikbud/217)














Kamis, 26 Maret 2015

Puncak Hari Perfilman Nasional 2015, Kremov Wakili Banten di Istana Negara


Kremov Pictures Siap Wakili Banten Dalam Pertemuan Komunitas Film Se-Indonesia dengan Bpk. Presiden Republik Indonesia di Istana Negara. Pertemuan ini diselenggarakan dalam rangka puncak perayaan peringatan Hari Film Nasional yang diselenggarakan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia - Direktorat Pembinaan Kesenian dan Perfilman. Kremov Pictures terpilih untuk mewakili Banten dalam acara yang digelar pada akhir Maret 2015 ini di Istana Negara. Selain silaturahmi dengan Presiden RI puncak hari film Nasional (HFN) 2015 sekaligus menjadi kampanye gerakan "Ayo! Nonton Film Indonesia!" (red/Kemendikbud/216)

Kamis, 19 Maret 2015

Kisah Shooting Jawara Kidul - PART2



HARI 1
Setelah menempuh shooting tahap perdana di Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi Jawa Barat selama seminggu (21-28 Februari 2015), Tim kreatif Kremov Pictures meneruskan proses produksi tahap kedua di sebuah pulau kecil di Provinsi Banten, yakni Pulau Sangiang. Jika sebelumnya para crew harus mendaki bersusah payah menerjang bebatuan untuk mencapai puncak gunung tertinggi, kali ini para crew harus bersiap berlayar mengarungi lautan dan menerjang ombak besar di selat sunda untuk menginjak sebuah pulau yang kata orang penuh dengan misteri, penuh kemistisan dan binatang buas. Namun tim Kremov seakan teguh terhadap pendirian serta siap mengambil beragam resiko untuk tetap shooting di Pulau ini dengan alasan bahwa pulau Sangiang merupakan salah satu objek wisata Alam di Banten yang perlu di ekspose agar paradigma negative masyarakat mengenai kemistisan tersebut dapat sedikit terubah, bahwa pulau ini tidaklah semistis apa kata orang, Pulau ini begitu cantik menyimpan keindahan alam untuk dinikmati sebagai destinasi objek wisata domestic dan mancanegara. 
Kamis, 12 Maret 2015 merupakan perjalanan pertama sebelum menuju Pulau Sangiang, dihari ini para Crew singgah dan menginap di Villa Green Garden Anyer untuk mempersiapkan segala kebutuhan selama shooting, sesuai tugas dan bidang masing-masing, seperti Transportasi, Konsumsi, Propery, Kesehatan, Peralatan, Genset, Bensin dan sebagainnya yang sekiranya tidak bisa didapatkan di Pulau Sangiang. Kamis malam sebagian para Crew membaca doa bersama, sedangkan sebagian crew lain masih mempersiapkan segala kebutuhan.

HARI 2
Mentari pagi bersinar terang, hari berganti menjadi Jumat, 13 Maret 2015, para crew bersiap mandi dan packing seluruh barang untuk dimuat di kapal motor yang siap membawa ke Pulau Sangiang. 2 buah kapal berukuran besar sudah standby di depan Villa, tim art hanya berharap seluruh property bambu, bilik, kain, dapat terangkut semua ke kapal, karena peraturan kapal tersebut tidak melebihi beban untuk keselamatan. 30 Cast crew yang sudah bersiap sejak subuh hingga pukul 09.30 akhirnya memulai perjalanan, angin yang cukup besar mempengaruhi ombak yang membuat kapal terhempas melaju kencang seperti wahana di dunia fantasi, pimpinan crew lighting jatuh pingsan karena melihat terjangan ombak yang cukup besar, crew lain beberapa menit panik namun kembali tenang saat awak kapal meyakinkan bahwa hal seperti ini sudah biasa terjadi. Perjalanan yang memakan waktu 1,5 Jam mengantarkan para crew ke Dermaga “Tembuyung” dan disambut oleh polisi hutan yang langsung menanyakan perizinan shooting kepada Humas Kremov Pictures, namun proses perizinan tidak dipersulit karena beberapa saat kemudian pihak masyarakat datang ke dermaga dan memberikan informasi bahwa 2minggu yang lalu tim Kremov Pictures datang untuk survey dan langsung menemui masyarakat serta izin resmi kepada ketua RT, Sesepuh, Ketua Pemuda, dengan respon disambut baik oleh masyarakat. Di pulau Sangiang yang secara administrative bagian dari Kabupaten Serang ini terdapat hampir 50 Kepala Keluarga dengan pusat masyarakat di daerah “Sepanjang” yang sekaligus menjadi pusat shooting Jawara Kidul tahap 2, di pulau ini para masyarakat menggunakan tenaga surya dan angin untuk kebutuhan listrik, namun hanya beberapa watt saja, jika kehabisan tenaga listrik para masyarakat menggunakan genset. Kang Uyung merupakan tokoh pemuda yang mengantarkan para crew untuk shooting, Kapal pengangkut barang kemudian langsung beralih ke dermaga “Legon Waru” untuk di bawa ke wilayah Sepanjang, karena jarak antara Dermaga Tembuyung, Legon Waru dan Sepanjang sangat berjauhan, bisa sampai 30 menit jika berjalan kaki antar dermaga. 1 kapal barang yang membawa ke LegonWaru sudahberangkat sedangkan 1 kapal lagi yang kami tumpangi kembali ke Anyer dan siap menjemput kami saat proses shoting selesai. Sedangkan kami para crew masih terdampar di Dermaga Tembuyung yang istirahat sejenak sampai pukul 13.30. beberapa jam istirahat kami langsung shooting di wilayah Dermaga Tembuyung yakni Scene mengekspose keindahan danau di Pulau Sangiang, baik long shoot, medium ataupun close-up, gambar yang kami dapatkan sangat cantik sehingga kamipun berani jika mengatakan bahwa film Jawara Kidul adalah film promosi budaya dan pariwisata yang dikenalkan oleh generasi muda. 
4 Jam kami shooting, jam tangan menunjukkan pukul 17.30, para crew langsung bergegas berjalan kaki menuju wilayah “Sepanjang” disitulah tempat kami menginap dsb, dan ditempat tersebut villa penginapan sudah dipersiapkan masyarakat Pulau Sangiang untuk para crew Kremov Pictures, Sebelum mencapai wilayah Sepanjang yang tidak memiliki dermaga, kami harus melewati wilayah legon waru, dengan rute Tembuyung-Legon Waru-Sepanjang. 30 menit perjalanan dari Dermaga Tembuyung kini tiba di Dermaga Legon Waru, wajah lelah mulai Nampak di kening para crew, keringat bercucuran, rasa haus yang begitu dalam membuat resah tim department umum yang meninggalkan Air minum gelas didalam kapal yang sudah terbawa ke penginapan. Salah satu tim art inisiatif meminta ijin terhadap penduduk untuk memanjat pohon kelapa dan menurunkan puluhan kelapa yang siap diminum airnya. Seperti ikan yang diberi umpan semua kumpul menyerbu meminum air kelapa silih berganti, begitu nikmat air kelapa yang sangat segar menghilangkan dahaga yang beberpa jam lamanya ditahan, setelah istirahat sejenak di Legon Waru, assisten director film, menemui warga pemilik pohon kelapa dan memberikan imbalannya, para crew melanjutkan perjalanan menuju wilayah “Sepanjang”.
Bagaikan kisah di film-film legendaris, puluhan crew diantar warga berjalan kaki dengan membawa beberapa barang ditengah jalan setapak hutan menuju wilayah “Sepanjang” 15 menit kemudian terdengar deburan suara ombak, kami yakin wilayah Sepanjang sudah dekat, hari mulai gelap, kami melewati jalur hutan dengan kondisi yang begitu gelap, hanya menggunakan smartphone yang memberikan sedikit penerangan. Tibalah di villa “Sepanjang” villa ini terbuat dari kayu, kamipun disambut pa RT dan sesepuh, kami bergegas membereskan barang dan bersiap mandi. Taraaaa…. Hanya ada 1 toilet di tempat ini, 30 cast crew harus bergantian dengan puluhan warga untuk mandi, Toilet yang hanya 1 dengan air yang masih didapatkan dengan menimba di sumur, membuat crew semakin bersahabat dengan warga dan melatih kesabaran. Air di wilayah ini terasa payau, maklum air didekat lautan, cuaca di daerah ini terasa panas, berbeda dengan cuaca saat shooting Tahap 1 di ciptagelar yang teramat dingin. Malampun tiba, kami berdiskusi dengan sesepuh, Pa RT, dan para tokoh masyarakat untuk mematuhi beragam peraturan di tempat ini demi keamanan dan keselamatan saat shooting berlangsung. Kami mengakhiri hari pertama di Sangiang dengan diskusi panjang, lalu kami terlelap tidur lelah demi mengumpulkan energy untuk shooting hari selanjutnya.






HARI 3
Sabtu, 14 Maret 2015, kami memulai shooting di tebing lautan, pagi ini kami lakukan secepat mungkin mengingat Tubagus Dian pemeran Prabu harus kembali ke Kota Serang karena mendapati urusan mendadak, para crew mencari beragam cara agar dapat memulangkan TB Dian, yang akhirnya ikut menumpang bersama nelayan yang akan singgah ke Anyer saat sore hari, kami masih melanjutkan shooting view di lautan Sepanjang. Hari mulai gelap, salah satu peraturan di tempat ini adalah saat jam 11.00 sampai jam 13.00 seluruh kegiatan shooting harus dihentikan serta jam 17.30 sampai 19.00, di waktu tersebut kami gunakan untuk istirahat. Makanan yang dibuat oleh team terasa enak walaupun disajikan dengan sederhana, menu makanannya antara lain, nasi, tempe, ikan asin, seblak,mie, baso, dan sebagainya, dari kebersamaan ini terlihat kekeluargaan yang begitu erat seakan kami merasa susah senang bersama, tidak boleh ada satupun yang kelaparan. Terkadang beberapa crew tersenyum rasa sedih dan senang bercampur aduk memiliki tim yang solid, tim yang mau berjuang untuk kesuksesan bersama. 
Kini menginjak pukul 20.00 tim masih memersiapkan adegan malam hari di tepi pantai, setting lokasi dan berbagai property sudah dipersiapkan secantik mungkin, kami siap melakukan adegan gubuk yang terbakar, para warga berbondong-bondong ikut menyaksikan dan mengamankan para crew, kami berjalan menuju pantai melewati hutan yang gelap, terlihat jelas di mata kami Babi hutan mengendus-endus mencari makanan, kelelawar berterbangan, malam begitu suram. Tibalah di tepi pantai, rupanya tim lighting masih berproses mengopersikan genset dan lampu-lampu yang sudah ditata rapih, cukup lama para actor dan extras menunggu untuk mulai shooting yang akhirnya dilaksanakan pukul 22.30. Shooting dimulai adegan tari jaipongan dengan nuansa klasik di pesisir pantai, kemudian adegan gubuk terbakar yang menghabiskan 20 liter bensin dan 5 liter minyak tanah yang seluruhnya sudah tim art persiapkan dari Anyer kamis lalu. Sang director begitu kelaparan sampai menanyakan mie instan atau apapun untuk menambah energy, hanya ada air mineral dalam dus yang terbatas,”ya sudahlah…” ungkapnya tetap semangat, begitupun silih berganti cameramen untuk menyelesaikan shooting adegan malam hari, tak terasa waktu menunjukkan pukul 02.50 kami sudah menginjak hari ke-4 yakni minggu, 15 Maret 2015. Kami mengakhiri shooting adegan malam lalu bersiap mengangkut seluruh barang kembali menuju villa, kelaparan yang kami rasakan saat shooting tadi hilang seketika karena terkalahkan dengan rasa lelah, yang niatnya kami makan-makan sampai villa namun semua rencana batal kamipun tertidur pulas pukul 04.00 WIB, dalam pikiran, belum berakhir kisah kita, masih terdapat 5 adegan yang harus dilakukan saat siang hari.


HARI 4
Minggu, 15 Maret 2015, para crew yang biasanya bangun pukul 05.00 hari ini bangun pukul 07.30, tak apalah itu semua karena kerja keras semalaman bergadang untuk menyelesaikan shooting malam hari. Tim masak sedikit lambat mempersiapkan sarapan karena 2 buah gas yang kami bawa sudah habis, sehingga masakpun harus beralih dengan kayu bakar, para crew merasakan sulitnya masak dengan kayu bakar, cukup lama, masakan pun beraroma khas tradisional. Seluruh tim sedikit molor hari ini, bukan hanya bangun tidur yang telat, atau sarapan yang ngaret, namun listrikpun dari semalam padam, seluruh baterai kamera, laptop dan peralatan lain lowbat, tidak ada cara lain kami harus menyalakan genset, sayang sekali bensinpun habis karena dipakai semalaman, ahhh rasanya kami ingin pulang secepatnya, beberapa tim mencari sedikit bensin ke warga, sampai pukul 12.00 siang kami belum melakukan shooting menunggu genset nyala, waktu shooting tinggal hari ini karena esok pagi kami harus bergegas pulang kembali ke Anyer. Akhirnya para warga membantu, gensetpun menyala dan kami berucap syukur “Alhamdulillah…” sejam mencharge batterai, kami langsung bergegas ke sebuah tempat yang merupakan icon pulau Sangiang yakni “Goa Kelelawar” yaa perjalaan dari Villa Sepanjang sampai Goa Kelelawar memakan waktu 30 menit berjalan kaki, ditengah hutan yang lebat, dan jalanan yang licin kami antusias semakin penasaran dengan Goa Kelelawar. Sesampainya di lokasi yang kami tuju, mata kami terbelalak melihat keindahan sebuah goa yang di tempati Kelelawar konon katanya goa yang berlandaskan lautan ini memiliki ikan Hiu di dalamnya yang dapat ditemui di pagi hari, sayangnya kami datang disiang hari pukul 14.30 WIB, sejenak para crew berfoto ria kami langsung mempersiapkan untuk take shooting 2 adegan yakni silat dan bertapa di goa ini, selanjutnya kami bergegas naik ke bukit tertinggi, yakni shooting di Saung Tungku, pemandangan yang luar biasa, kami dapatkan pula di tempat ini, kami cukup berhasil mendaatkan view-view eksotis di pulau Sangiang walaupun waktu shootng kami di Part kedua ini cukup singkat hanya 5 hari. Pukul 17.00 rintik hujan mendatangi para crew yang bergegas menuju villa. Dimalam hari Film Director bersama tim Humas menemui warga serta sesepuh untuk berpamitan dan mengucapkan terimakasih, di Minggu malam pukul 21.00 para cast dan crew berbagai kisah kesan pesan shooting di Pulau cantik ini, kami menghabiskan malam dengan Tawa Canda, kebersamaan dan kehangatan keluarga yang merupakan ciri khas Kremov Pictures.


HARI 5
Senin, 16 Maret 2015, para crew mulai mempersiapkan barang-barang untuk dibawa pulang kembali ke Anyer, Kapal yang sudah menjemput dan menunggu di Dermaga Tembuyung, para cast dan crew berpamitan dan berfoto bersama dengan seluruh warga di pulau Sangiang, terlihat perpisahan yang sangat mengharukan antara crew dan warga yang sudah cukup akrab. 3 Gerobak membawa barang-barang kami, kami berjalan kaki menuju dermaga legon waru, namun kapal besar yang kami naiki tidak dapat mendarat ke dermaga ini karena perairannya cukup dangkal jadi harus berjalan kaki 30 menit dari legonwaru ke dermaga Tembuyung, ini tak sekedar shooting film tapi juga petualangan yang sangat seru, pengalaman ini menjadikan para crew semakin dewasa dan mengerti arti kehidupan, kami berlayar kembali pulang dari dermaga tembuyung, hati kami merasa sedih saat meninggalkan pulau sangiang, keramahan masyarakat membuat kami kagum, keindahan alamnya membuat kami jatuh cinta, kami diantar oleh sesepuh dan tokoh pemuda sampai dermaga, lautan biru dengan ombak yang berdesir membuat rasa yang bercampur aduk, senang sedih dan sebagainya, Kapal yang kami naiki semakin jauh, Pulau Sangiang terlihat semakin kecil dan hilang dimata kami, namun Pulau Sangiang akan selalu kami simpan dalam kenangan di hati dan menjadi bagian gambar film Jawara Kidul yang nantinya akan disajikan untuk masyarakat Banten dan Indonesia. We love Sangiang Island. Saksikan filmnya, segera tayang Agustus-Desember 2015. (Inf/JK/06)





Minggu, 01 Maret 2015

Kisah Shooting Jawara Kidul - PART1

Setelah melewati beragam kegiatan dan persiapan dalam pra-produksi sejak pertengahan tahun 2014, 40% setting lokasi pertama yang dipilih untuk film Jawara Kidul adalah kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi Jawa Barat. Sedangkan 60% lokasi di film ini meliputi wilayah Lebak, Anyer, dan sekitar Banten lainnya. Pemilihan lokasi di Ciptagelar dengan alasan bahwa Kasepuhan Ciptagelar merupakan Kesatuan masyarakat etnis sunda Banten Kidul yang memang secara administratif kesatuan adat Banten Kidul menjadi 3 wilayah yakni Kabupaten Lebak, Sukabumi dan Bogor. Kremov memilih Ciptagelar karena sebelumnya memiliki jaringan di Kasepuhan Cisungsang, Lebak dalam produksi film Perempuan Lesung.
Tepat pada Sabtu, 21 Februari 2015 pukul 05.30 Cast dan Crew Kremov Pictures berbondong-bondong membawa seluruh property, wardrobe, dan equipment yang telah dipersiapkan secara matang, ke mini bus yang telah terparkir di depan sekretariat Kremov Pictures, Jl. KH. Djamhari Kaloran masjid Gedong Serang. Semula 42 crew yang siap berangkat, namun 7 crew membatalkan keberangkatan dengan beberapa alasan, ternyata dua buah mini bus elf ditakdirkan mencukupi untuk ditempati 35 crew yang siap berangkat, Para crew melewati Pandeglang, menjemput beberapa Crew lain yang tinggal di Pandeglang dan Lebak. Perjalanan yang cukup panjang, dengan berulang kali istirahat, akhirnya pukul 15.30 sampai di Pasir Kurai, Kec. Cibeber, Lebak. dari Pasir kurai menuju Ciptagelar normalnya berkisar 2 Jam perjalanan. Saat melanjutkan perjalanan menuju Cipatgelar, para aktor dan crew terkejut melihat jalanan yang sangat terjal, penuh bebatuan, kanan tebing, kiri jurang, mataharipun perlahan mulai terbenam, namun tidak dengan tim yang telah survei di tempat ini, terlihat lebih tenang. 1 Jam terlewati dengan baik, namun kekhawatiran para crew termasuk tim yang telah survey mulai memuncak saat mini bus tidak sanggup untuk naik ke atas jalan, berulang kali mini bus mundur, berulang kali pula tim bergegas mendorong, berdoa memohon perlindungan, yang ada pada pikiran para crew hanya keselamatan, namun sang sopir pantang menyerah terus berusaha sekuat tenaga menaikan mobilnya, Beberapa crew meminta bantuan dari warga sekitar, perjalanan yang berkelok-kelok dan sangat rumit untuk ukuran mini bus membuat para crew semakin tertantang, semakin penasaran, dalam pikiran para crew sepertinya ada hal yang istimewa dibalik perjalanan yang menantang adrenalin ini, ternyata tentu ada, Tuhan memberikan kemudahan setelah melewati beragam kesulitan, beberapa crew menitikan air mata tepat pukul 19.45 yang disambut oleh pintu masuk Ciptagelar, beribu syukur terucap dari hati para crew, total 14 jam perjalanan kami lalui, 11 Jam perjalanan dilalui dengan penuh semangat, dan 3 jam perjalanan terakhir dilalui dengan dramatis menguji kesemangatan dan keseriusan diawal keberangkatan, namun para crew sanggup melewati ujian tersebut.
Shooting film tahap pertama selama satu minggu 21-28 Februari 2015 di Kasepuhan Cipagelar, membuat para crew dan aktor harus beradaptasi dengan cuaca yang sangat dingin, adat istiadat yang masih kental, serta melaksanakan beberapa ritual sebelum melakukan kegiatan. Abah ugi yang merupakan ketua adat Kasepuhan Ciptagelar, sangat mendukung proses produksi film Jawara Kidul, ia sangat senang dengan kedatangan crew Kremov Pictures yang sudah cukup lama dinantikan. Panorama alam yang sangat eksotis membuat tim tidak berhenti bersyukur menikmati ciptaan sang khalik, ditambah lagi dengan keterbukaan dan ketulusan masyarakat adat Ciptagelar membuat tim semakin betah untuk menjalani proses shooting dengan hati yang senang. Tak hanya itu, Kasepuhan Ciptagelar menyajikan makanan tiga kali sehari dengan menu yang bervariasi dan sangat enak, masakan khas sunda ala Ciptagelar membuat tim ketagihan dengan sambalnya yang begitu lezat. Selama satu minggu proses shooting tahap pertama tersebut memberikan banyak pengalaman berharga untuk para cast dan crew yang kemudian siap memvisualisasikan melalui film untuk dapat dinikmati oleh masyarakat Banten dan Indonesia.
Dengan budget yang cukup fantastis dimulai dari biaya transportasi, pembuatan property, pembuatan wardrobe, konsumsi, dan figuran yang sangat besar membuat tim work tetap berani mengambil langkah menghabiskan dana hasil prestasi kremov serta dari beberapa investor film Jawara Kidul, namun para crew masih cukup senang dengan bantuan support penginapan dari Kasepuhan Ciptagelar, support dari komunitas Reptil, dan komunitas-komunitas lain di provinsi Banten yang diajak kerjasama oleh Kremov Pictures demi meminimalisir budget produksi. Saat ini crew masih memikirkan untuk proses produksi tahap selanjutnya dan post production yang diperkirakan memakan biaya yang cukup besar dalam pembuatan musik dan visual effect. Film Jawara Kidul ditargetkan selesai pada bulan ke-8 tahun 2015 ini sekaligus menjadi karya epic ke-18 dari Kremov Pictures yang sebelumnya berhasil mencetak prestasi seperti film Ki Wasyid, Perempuan Lesung dan Santri. Film dengan konsep kolosal bergenre drama action selain menghibur juga bertujuan memberikan pesan kepada masyarakat mengenai arti Jawara yang sesungguhnya, selain ditayangkan di Bioskop, film ini akan diikutsertakan dalam beberapa festival film nasional dan internasional, harapan para crew adalah film Jawara kidul menjadi karya Kremov yang semakin baik dari segi cerita, teknis, maupun pengemasannya, serta diterima oleh masyarakat yang melihat bahwa Kremov Pictures sebagai komunitas film Banten dapat membangun perfilman daerah juga mencetak prestasi yang lebih baik.(red/DM)







 
Product by Kremov Pictures | Disbudpar Provinsi Banten - Visit Banten 2015 | Jawaranya Film Banten!